Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

GP Ansor, Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an

gp ansor keindonesiaan dan keislaman


pemudabisa.com - Berbicara mengenai Gerakan Pemuda Ansor, untuk selanjutnya disebut GP Ansor, tentunya kita tidak bisa melepaskan tentang visi misi Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an yang selama ini menjadi hirah setiap gerakannya di dalam setiap ekspresi serta aktualisasi di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Pernahkah kita melihat di pemberitaan media, misalnya GP Ansor atau bersama Banser-nya melakukan sweeping warung-warung yang buka di tengah bulan puasa?, atau menyisir tempat-tempat yang diduga sebagai lumbung kemaksiatan dengan cara yang kurang beradab?, bisa di-check di media online ― bisa dipastikan  nihil.

Hal ini tidak lain merupakan faktor visi dan misi yang diusung GP Ansor bukanlah visi ke-Islam-an kaleng-kaleng ― sebagaimana dipahami organisasi fentungan bil take a beer yang melakukan gerakan secara serampangan akibat salah dalam memahami tekstualitas ayat-ayat Tuhan. GP Ansor sudah tuntas dalam konteks ke-Islam-an, apalagi konteks ke-Indonesia-an, tentang pancasila, UUD 1945, semua sudah menjadi harga mati untuk dijaga dan dilestarikan.

Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an GP Ansor

Sebagaimana kita pahami, GP Ansor merupakan badan otonom dari organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan dunia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) ― sehingga jati diri organisasi kepemudaan ini tidak jauh dari orientasi organisasi induknya. Dalam segi aqidah ― sebagaimana termaktub di dalam PD PRT, GP Ansor beraqidahkan Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah.

Aqidah aswaja secara ringkas bisa dipahami ajaran yang di dalamnya mengajarkan tentang nilai tawazun, ta’awun, ta’adul, tasammuh, sehingga besar harapan ― dengan nilai-nilai aswaja, yang tentunya ala an- nahdliyah ini mampu menjadi pegangan setiap kader ansor dalam bersikap, baik itu ketika menyikapi permasalahan internal atau eksternal organisasi.

Apakah ada yang meragukan visi ke-Indonesia-an GP Ansor?, tentu mayoritas pihak tidak ada yang meragukan, terkecuali bagi kelompok yang sinis kepada Ansor. Seperti menjadi langganan di setiap momen Natal ― Ansor dengan Banser-Nya selalu menjadi bulliying netizen kadrun yang melakukan penjagaan gereja di hari Natal.

Padahal sesungguhnya itu merupakan ekspresi tolerasi beragama yang ditunjukkan GP Ansor dalam rangka merealisasikan ke-Bhineka-an sebagaimana jati diri sesama anak bangsa. Itulah Ansor, tidak akan pernah lelah mencintai Indonesia. Apa yang dilakukan semata-mata tidak lain dan tidak bukan adalah wujud komitmen organisasi terhadap keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri tercinta ini.

Gerakan Nyata GP Ansor

Indonesia dalam waktu belakangan ini disibukkan dengan infiltrasi gerakan radikalisme yang semakin menunjukkan wujud nyata. Indoktrinasi paham radikal semakin menjamur di setiap sendi kehidupan masyarakat, tidak hanya menyasar kaum intelektual muda yang berproses di kampus saja, melainkan sudah merambah ke setiap elemen komunitas masyarakat, mulai dari kalangan selebritis sampai ke masyarakat biasa, seperti ibu-ibu pengajian ― khususnya di daerah kota-kota besar.

Bahkan semakin ke belakang ― lumbung-lumbung yang digunakan untuk menyemai benih- benih radikalisme semakin terkuak. Banyak BUMN yang pegawainya sudah terpapar paham radikal, ternyata kelompok-kelompok ini sudah begitu lihai dalam memanfaatkan fasilitas negara untuk mempropagandakan ideologi radikal demi memuluskan agenda terselubung mereka.

Kondisi yang demikian sudah sangat dipahami oleh GP Ansor. Sampai puncaknya ― HTI yang selama ini bersembunyi dibalik label organisasi dakwah yang padahal sesungguhnya merupakan gerakan politik transnasional ini dibubarkan oleh pemerintahan Jokowi dengan mencabut status badan hukum HTI berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-30.AH.01.08 tahun 2017 tentang pencabutan Keputusan Menteri Hukum dan HAM nomor AHU-0028.60.10.2014 tentang pengesahan pendirian badan hukum perkumpulan HTI. Siapa motor penggerak dibalik pembubaran HTI? GP Ansor lah yang menjadi garda terdepan. Ini adalah wujud gerakan nyata GP Ansor yang memiliki tanggungjawab sejarah untuk menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila.

Tidak hanya berkutat dalam sektor itu saja, dalam melaksanakan khittah-nya sebagai penjaga Ulama, GP Ansor bersama Banser-nya senantiasa mengawal ulama- ulama NU dimana saja dan kapan saja, termasuk di wilayah media sosial. Seperti yang masih hangat kemarin ― telah terjadi kasus penghinaan oleh ustadz ‘tusbol’ sony thuwalaibi kepada Habib Lutfhi bin Yahya di Twitter, yang pada akhirnya menghantarkan dia masuk bui. Menghina ulama NU sama dengan menghina organisasi NU. Sudah sepatutnya dilakukan GP Ansor sebagai organisasi sayap pemuda-pemuda Nahdlatul Ulama (mengcounter penghina) dalam menjaga marwah para kyai, habaib dan NU secara organisasi.

Gerakan sosial kemasyarakatan juga tidak luput menjadi wilayah gerak GP Ansor. Sebagai contoh ― seperti diketahui Indonesia hampir setahun genap dilanda pandemi virus Corona. GP Ansor di seluruh Indonesia beramai-beramai ikut mengantasipisasi maraknya penyebaran virus ini dengan membentuk satgas-satgas yang ditugaskan untuk melakukan penyemprotan disinfektan, pembagian masker, handsanitizer, mensosialisikan dan menerapkan pyhsical distancing, dan lain sebagainya.

Walhasil ― Gerakan Pemuda Ansor merupakan organisasi yang memiliki akar sejarah yang jelas, memiliki langkah gerak yang tepat, tegas dan bijaksana dalam menyikapi perkembangan situasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Organisasi yang memiliki paham ke-Islam-an yang moderat dan paham ke-Indonesia-an yang sudah final. Ia tidak akan pernah gentar melawan pihak-pihak yang berpotensi atau terang- terangan mengancam keutuhan persatuan dan kesatuan Negara Indonesia.

NKRI HARGA MATI!!!

Kalau hari ini ada kelompok yang mem-bully tidak usah kecil hati. Ansor Banser Adalah raksasa. Tidak ada rumusan apapun yang dapat membenarkan yang besar takut pada yang kecil. - Pesan Gus Mus kepada Ketum Gus Yaqut Cholil Qoumas -

*Penulis adalah Bendahara PAC GP Ansor Durenan 2021-2023

Posting Komentar untuk "GP Ansor, Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an"